Rabu, 21 Juli 2010

LANDASAN TEORI PERSALINAN

PENGERTIAN

Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu.

Jenis – jenis persalinan :

1. Persalianan spontan

Ialah persalian yang berlansung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir.

2. Persalinan buatan

Ialah persalinan yang dibantu tenaga dari luar seperti : forsep , secsio caesaria, cavum ekstarksi.

3. Persalianan anjuran

Ialah persalianan yang berlangsung setelah dilakukan suatu tindakan misalnya pemecahan ketuban pemberian oxytocin.

Pada umumnya persalinan terjadi bila bayi sudah cukup besar untuk hidup di luar, tetapi tidak sedemikian besarnya sehingga menimbulkan kesulitan dalam persalinan. Kadang-kadang persalinan tidak mulaidengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocin, atau prostaglandin.

Menurut usia kehamilan, beberapa istilah yang berkaitan dengan umur kehamilan dan berat janin yang dilahirkan sebagai berikut ;

1. abortus

· Terhentinya dan dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan

· Umur hamil sebelum 28 minggu

· Berat janin kurang dari 1000 gram

2. persalinan prematuritas

· Persalinan senelum umur hamil 28 sampai 36 minggu

· Berat janin kurang dari 2499 gr

3. persalinan aterm

· Persalinan antara umur hamil 37 sampai 42 minggu

· Berat janin di atas 2500 gr

4. persalinan serotinus

· Persalinan melampaui umur hamil 42 minggu

· Pada janin terdapat tanda post maturitas

5. persalinan presipitatus

· Persalinan berlangsung cepat kurang dari 3 jam

Fisiologi Persalinan

Sebab-sebab terjadinya Persalinan :

Sebab-sebab mulainya persalinan belum diketahui dengan jelas, namun ada banyak faktor yang memegang peranan penting sehingga menyebabkan persalinan. Beberapa teori yang dikemukakan adalah :

Penurunan kadar Estrogen dan Progesteron

o Hormon progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya hormon estrogen meninggikan kerentanan otot-otot rahim.

o Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his.

* Teori Oksitosin

o Hormon oksitosin mempengaruhi kontraksi otot-otot rahim. Pada akhir kehamilan, kadar oksitosin bertambah, sehingga uterus menjadi lebih sering berkontraksi.

* Teori Distansia Rahim

o Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya.

o Demikian dengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot dan otot-otot rahim makin rentan.

* Pengaruh Janin

o Hipofyse dan kelenjar suprarenal janin memegang peranan oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.

* Teori Prostaglandin

o Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua, menjadi salah satu penyebab permulaan persalinan.

* Teori Plasenta menjadi tua

o Menurut teori ini, plasenta menjadi tua akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.

* Teori Iritasi Mekanik

o Di belakang serviks terdapat ganglion servikale (fleksus Frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, maka akan timbul kontraksi.

* Induksi Partus (Induction of Labour)

Partus juga dapat ditimbulkan dengan :

a. Gagang Laminaria : Beberapa laminaria diamsukkan ke dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang Fleksus Frankenhauser.

b. Amniotomi : Pemecahan ketuban

c. Oksitosin Drips : Pemberian Oksitosin melalui tetesan infus per menit

Dalam hal mengadakan induksi persalinan perlu diperhatikan bahwa serviks sudah matang (serviks sudah pendek dan lembek) dan kanalis servikalis terbuka utuk 1 jari.

Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki bulannya yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labour)

Ini memberikan tanda-tanda sebagai berikut :

· Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.

· Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri menurun.

· Perasaan sering atau susah BAK (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.

· Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi leah dari uterus, kadang-kadang disebut false labour pains.

· Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah.

A. Perjalanan persalinan secara klinis :

Beberapa minggu sebelum ibu bersalin , ia akan merasa kandungan atau keadaannya menjadi lebih enteng (lightening) ia merasa sesakna berkurang, tetapi sebaliknya ia merasa bahwa berjalan sedikit sukar dan sering diganggu oleh perasaan nyeri pada anggota badan bawah , dan sering BAK, secara singkat gejala ini disebabkan oleh turunnya karena kepala janin sudah masuk PAP. His palsu : ini terjadi 3 atau 4 minggu sebelum persalinan karena terjadi peningkatan dan kontraksi Braxton hicks.

B. Tanda – tanda persalinan :

1. Timbulnya His persalinan : his permulaan dengan sifat – sifat sebagi berikut :

· Nyeri melingkar dari punggung melancar keperut bagian depan.

· Teratur

· Makin lama makin pendek intervalnya dan makin kuat

· Jika dibawa berjalan bertambah kuat

· Berpengaruh pada pendataran dan atau pembukaan serviks.

2. Keluarnya lendir campur darah dari jalan lahir (blood show).

Hal ini terjadi karena terlepasnya selaput janin pada bagian bawah segmen bawah rahim pada saat pendataran serviks sehingga beberapa kapiler terputus.

3. Keluarnya cairan banyak dengan tiba – tiba dari jalan lahir.

Hal ini terjadi kalau ketuban pecah atau selaput janin robek. Ketuban biasanya pecah kalau pembukaan lengkap atau hampir lengakap

Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan adalah :

1. Power : - His (kontraksi otot-otot rahim)

- Kontraksi otot dinding perut

- Kontraksi diafragma pelvis / kekuatan mengejan

- Ketegangan dan kontraksi ligamentum rotundum

2. Passanger : - Janin

- Plasenta

3. Passage : Jalan Lahir

Fisiologi His

Secara Klinis, persalinan dimulai bila timbul his dan ibu mengeluarkan lendir bercampur darah merah (bloody show, lendir yang bercampur darah ini berasal dari Kanalis Servikalis karena serviks mulai membuka, mendatar, sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang berada di sekitar Kanalis Servikalis yang pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks membuka.His dimulai dari salah satu tuba yang masuk ke dalam dinding uterus, gelombang bergerak ke dalam dan ke bawah dengan kecepatan 2 cm tiap detik untuk mengikutsertakan seluruh uterus. His yang sempurna mempunyai kejang otot paling tinggi di fundus uteri yang lapisan ototnya paling tebal, dan puncak kontraksi erjadi simultan di seluruh bagian uterus. Sesudah tiap his, otot-otot korpus uteri menjadi lebih pendek daripada sebelumnya. Oleh karena serviks kurang mengadung otot maka serviks tertarik dan dibuka, lebih-lebih jika ada tekanan oleh bagian besar janin yang keras, umpamanya kepala yang merangsang pleksus syaraf setempat.

Kala dalam persalinan :

1. Kala 1 (dari pembukaan 1 sampai lengkap).

Dimulai bila timbul his dan wanita mengeluarkan lendir yang bercampur darah (blood show) sampai dengan pembuakaan lengkap (10cm)

v Proses ini terbagi menjadi 2 fase , yaitu :

a) Fase laten

Berlangsung selama 8 jam , serviks membuka samapi 3 cm.

§ Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.

§ Pembukaan serviks kurang dari 4 cm

§ Biasanya berlangsung di bawah hingga 8 jam

b) Fase aktif

§ Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).

§ Serviks membuka dari 4 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga penbukaan lengkap (10 cm)

§ Terjadi penurunan bagian terbawah janin

§ Berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 sub fase, yaitu :

· Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan dari 3 – 4 cm

· Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat , dari 4 – 9 cm

· Fase deselerasi : pembukaan menjadi lambat lagi , dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap

Lamanya kala 1 untuk primigravida 12 jam , sedangkan untuk multigravida lamanya 8 jam.

Pada kala 1 his belum begitu kuat, yaitu 10 – 15 menit. Lambat laun His bertambah kuat, intervalnya menjadi lebih pendek, kontraksi menjadi lebih kuat dan lebih lama lendir campur darah bertamabah banyak.

Dalam beberapa buku, proses membukanya serviks disebut dengan berbagai istilah : melembek (softening), menipis (thinned out), oblitrasi (oblitrated), mendatar dan tertarik ke atas (effaced and taken up) dan membuka (dilatation).

Faktor yang mempengaruhi membukanya serviks :

a. Otot-otot serviks menarik pada pinggir ostium dan membesarkannya.

b.Waktu kontraksi, segmen bawah rahim dan serviks diregang oleh isi rahim terutama oleh air ketuban dan ini menyebabkan tarikan pada serviks.

c. Waktu kontraksi, bagian dari selaput yang terdapat di atas kanalis servikalis adalah yang disebut ketuban, menonjol ke dalam kanalis servikalis dan membukanya.

Perbedaan fase yang dilalui antara primigravida dan multigravida adalah

Primigravida

Multigravida

· Serviks mendatar (effacement) dulu baru dilatasi

· Berlangsung 13-14 jam

· Serviks mendatar dan membuka bisa bersamaan

· Berlangsung 6-7 jam

Mempersiapkan Kelahiran Bayi

1. Mempersiapkan ruangan untuk persiapan persalinan dan kelahiran bayi.

2. Mempersiapkan semua perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obat esensial

3. Mempersiapkan Rujukan

4. Memberikan Asuhan Sayang Ibu selama proses persalinan

5. Melakukan upaya Pencegahan Infeksi (PI) yang direkomendasikan

  1. Kala II (dari pembukaan lengkap samapai bayi lahir)

Kala II persalinan adalah masa pembukaan lengkap samapi dengan lahirnya bayi. Disebut juga kala pengeluaran atau keluarnya bayi dari uterus melalui vagina.

Perubahan yang terjadi pada kala II :

· Kontraksi uterus

a. Lebih kuat , amplitudo 40 – 60 mmhg

b. Lebih lama , 50 – 60 detik untuk satu his

c. Lebih sering , lebih dari 3x dalam 10 menit

· Fetus

Penyaluran O2 pada palsenta akan berkurang dapat menyebabkan :

Ø Hipoksia

Ø Djj menjadi tidak teratur

Ø Kepala masuk rongga , dasar panggul tertekan sehingga timbul reflek mengedan.

· Otot penyokong kala II

Karena ibu mengedan , maka otot pada dinding perut akan berkontraksi. Mengedan optimal dilakukan dengan cara :

Ø Paha ditarik dekat lutut

Ø Badan fleksi dagu menyentuh dada

Ø Gigi bertemu gigi

Ø Tidak mengeluarkan suara.

· Dasar panggul dan organ panggul

Ø Vagina jadi tambah luas

Ø Otot – otot dasar panggul merenggang

Ø Kandung kemih terdorong kearah pubis

Ø Uretra terenggang

Ø Rectum tertekan

Setiap his datang , maka akan timbul rasa ingin BAB , reflek mengedan , dan kesakitan pada ibu. Pada kala II tanda – tanda vital perlu diperhatikan dan DJJ harus selalu di observasi. Pada primigravida kala II berlangsung rata – rata 1,5 jam dan pada multipara rata – rata berlangsung selama setengah jam.

Diagnosa Kala II Persalinan

Gejala

Setiap His : Rasa ingin BAB

Refleks mengedan kesakitan

Pemeriksaan semua : Tanda-tanda vital perlu diperhatikan; TD tinggi, nadi cepat, cepat berkeringat

Tanda dan gejala Kala II Persalinan :

§ Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi

§ Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan atau vaginanya

§ Perineum terlihat menonjol

§ Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka

§ Peningkatan pengeluaran lendir dan darah

Diagnosis kala dua persalinan dapat ditegakkan atas dasar hasil pemeriksaan dalam yang menunjukkan :

§ Pembukaan serviks telah lengkap (10 cm)

§ Biasanya ketuban pecah sendiri; bila pembukaan lengkap tapi ketuban masih positif, maka dilakukan amniotomi

§ Terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus vagina

§ UUK biasanya akan memutar ke depan; pada primigravida kala II berlangsung rata-rata 1,5 jam dan pada multipara rata-rata 0,5 jam

Penatalaksanaan Kala II Persalinan

a. Persiapan Penolong Persalinan

Menerapkan upaya Pencegahan Infeksi seperti yamg dianjurkan, termasuk di antaranya cuci tangan, memakai sarung tangan dan perlengkapan pelindung pribadi.

b. Persiapan tempat persalinan, peralatan, dan bahan

Pastikan bahwa semua peralatan dan bahan-bahan tersedia dan berfungsi dengan baik.

c. Persiapan tempat dan lingkungan untuk kelahiran bayi

Pastikan bahwa ruangan bersih, hangat dan nyaman.

d. Persiapan Ibu dan Keluarga

Asuhan Sayang Ibu

- Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu dan terlibat dalam asuhan sayang ibu

- Berikan dukungan dan semangat pada ibu serta bimbing ibu untuk berdoa

- Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran

- Saat pembukaan lengkap, jelaskan pada ibu untuk hanya meneran apabila ada dorongan kuat untuk meneran. Jangan menganjurkan ibu untuk meneran berkepanjangan dan menahan nafas.

- Anjurkan ibu untuk minum selama kala dua persalinan sebagai tambahan tenaga saat meneran dan agar ibu tidak dehidrasi.

- Beritahu dan jelaskan setiap tindakan yang akan kita lakukan pada ibu

e. Penatalaksanaan Fisiologis kala dua persalinan

Memulai Meneran

Bila sudah didapatkan tanda pasti kala dua persalinan, tunggu sampai ibu merasakan adanya dorongan spontan untuk meneran. Jangan melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi. Teruskan pemantauan ibu dan janin.

Posisi ibu saat melahirkan

Perbolehkan ibu untuk mencari posisi yang apapun yang nyaman baginya, tapi ibu tidak boleh melahirkan bayi pada posisi telentang (Supine Position).

Pencegahan Laserasi

Kejadian laserasi akan meningkat jika bayi dilahirkan terlalu cepat dan tidak terkendali. Oleh karena itu untuk mencegahnya, dilakukan Stenen saat kepala 5-6 cm depan vulva.

Cara melahirkan bayi :

a. Melahirkan kepala bayi

Pimpin ibu meneran saat kepala sudah tampak 5-6 cm depan vulva.

© Letakkan satu tangan pada kepala bayi agar tidak terjadi defleksi maksimal.

© Satu tangan lainnya menahan perineum agar tidak terjadi robekan.

© Usap muka bayi dengan kasa / kain kering untuk membersihkan dari kotoran seperti darah, lendir dan air ketuban.

© Periksa apakah ada lilitan tali pusat, jika ada lilitan dan tali pusat panjang maka longgarkan melewati kepala bayi, tapi jika tali pusat pendek, klem lalu potong.

b. Melahirkan bahu dan anggota badan seluruhnya

© Biarkan kepala bayi mengadakan putaran paksi luar dengan sendirinya.

© Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan lehar bayi (secara biparietal).

© Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan, dan lakukan tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu belakang.

© Selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan lain ke punggung bayi untuk melahirkan bayi seluruhnya (dengan sanggah susur)

© Letakkan bayi di atas perut ibu dan keringkan bayi.

© Klem dan potong tali pusat di antara kedua klem.

3. Kala III (dari bayi lahir hingga plasenta lahir).

Kala III berlangsung dari lahirnya bayi hingga lahirnya plasenta secara lengkap dari dinding uterus. Biasanya plasenta lepas dalam 6 – 15 menit setelah kelahiran bayi dan keluarnya spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri. Peneluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah ± 100-200 cc.

Tanda-tanda pelepasan plasenta :

a. Perubahan bentuk dan tinggi fundus.

Setelah bayi lahir, dan sebelum miometrium berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya turun hingga di bawah pusat.

b. Tali pusat memanjang (tanda Ahfeld)

c. Semburan darah tiba-tiba

Semburan darah yang tiba-tiba ini menandakan bahwa darah yang terkumpul di antara tempat melekatnya plasenta dan permukaan maternal plasenta ( darah retroplasenter), keluar melalui tepi plasenta yang terlepas.

Manajemen Aktif Kala III, yaitu :

- Pemberian suntikan Oksitosin 10 unit IM dalam waktu 2 menit setelah bayi lahir.

- Melakukan penegangan tali pusat terkendali

- Rangsangan Taktil (masase) fundus uteri selama 15 detik.

Keuntungan-keuntungan Manajemen Aktif Kala III :

* Kala tiga persalinan yang lebih singkat

* Mengurangi Jumlah Kehilangan darah

* Mengurangi kejadian Retensio Plasenta

Tingkat pada Kelahiran Plasenta :

1. Melepas Plasenta dari implantasinya pada dinding uterus

2. Pengeluaran Plasenta dari dalam kavum u teri

§ Pelepasan dapat dimulai dari tengah (sentral, menurut Schultz)

§ Dari pinggir plasenta (marginal, menurut Mathew-Duncan)

§ Serempak dari tengah dan pinggir plasenta

§ Umumnya perdarahan tidak melebihi 400 ml, jika lebih termasuk kasus patologi.

Tingkat kelahiran plasenta :

· Melepasnya palsenta dari tempat implantasi di dinding uterus.

· Pengeluaran palsenta dari cavum uteri.

Ø Pelepasan dapat dimulai dari tengah (entral menurut schultz)

Ø Dari pinggir plasenta

Ø Serempak dari tengah dan pinggir plasenta

Ø Umumnya perdarahan tidak melebihi 400 ml

Untuk mengetahui pelepasan plasenta dipakai beberapa prasat yaitu :

o Perasat Kustner

Tangan kanan meregang atau menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri menekan daerah simfisis , bila tali pusat inimasuk kembali kedalm vagina berarti palsenta belu lepas dari dinding uterus. Bila tali pusat tidak masuk kembali kedalam vagina , berarti plasenta telah lepas dari dinding uterus.

o Persat Strassman

Tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri mengetuk – ngetuk fundus uteri.bila tersa getaran pada tali pusat , berarti tali pusat belum lepas dari tempat implantasi. Bila tidak terasa getaran, berarti tali pusat telah terlepas dari tempat implantasinya.

o Persat Klein

Ibu disuruh mengedan , bila tali pusat tampak turun kebawah saat mengedan dihentikan maka plasenta telah lepas dari tempat implantasinya.

o Perasat Crede

Dengan cara memijat uterus seperti memeras jeruk agar palsenta lepas dari dinding uterus. Perasat ini hanya digunakan dalam keadaan terpaksa.

4. Kala IV (sampai dengan 2 jam plasenta lahir).

Adalah pemantauan melekat terhadap tanda – tanda vital dan jumlah perdarahan harus dilakukan pada 1 – 2 jam setelah plasenta lahir lengkap. Hal ini dimaksudkan agar keadaan ibu post partum dapat dipantau dan bahaya akibat perdarahan dapat dihindari.

Sebelum meninggalkan ibu post prtum, harus diperhatikan 7 yang penting, antara lain :

1) Kontraksi uterus harus baik

2) Tidak ada perdarahan baik dari vagina maupun dari alat genitalia lainnya

3) Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap

4) Kandung kemih harus kosong

5) Luka pada perineum telah terawat baik dan tidak ada hematoma

6) Bayi dalm keadaan baik

7) Ibu dalam keadaan baik , nadi dan TD normal tidak ada keluhan sakit kepala

Lamanya persalinan pada Primipara dan Multipara adalah :

Waktu

Primipara

Multipara

Kala I

13 jam

7 jam

Kala II

1 jam

½ jam

Kala III

½ jam

¼ jam

Lama persalinan

14 ½ jam

7 ¾ jam

Asuhan dan Pemantauan pada Kala IV

Setelah lahirnya Plasenta :

1. Periksa kelengkapan plasenta dengan teliti apakah lengkap atau tidak untuk menghindari perdarahan.

2. Periksa kontraksi rahim, bila kontraksi rahim tidak bagus dan konsistensi uterus lembek bisa mengakibatkan perdarahan.

3. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan penolong secara melintang antara pusat dan fundus uteri. Fundus uteri harus sejajar dengan pusat atau lebih bawah.

4. Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.

5. Periksa perineum dari perdarahan aktif. Periksa luka laserasi atau episiotomi, apakah terawat dengan baik dan tidak ada hematome.

6. Evaluasi kondisi ibu secara umum. Pastikan Ibu dalam keadaan baik. Nadi dan Tekanan Darah normal, tidak ada pengaduan sakit kepala tau enek.

7. Pastikan kondisi bayi dalam keadaan baik.

8. Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala IV persalinan pada halaman partograf segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian.

IV. Penatalaksanaan dalam persalinan

A. Tindakan pada kala 1

1. Memeriksa pasien (TTV dan pemeriksaan luar)

2. Mempertahankan kekuatan moril pasien

3. Melakukan periksa dalam untuk menentukan ramalan persalinan dengan tetap menjaga teknik septik dan septik

4. Memperhatikan keadaan kandung kencing (bila penuh dapat mengganggu proses persalinan , periksa pula rectum

5. Observasi keadaan janin

6. Perhatikan nutrisi ibu yang mau bersalin

7. Mengajarkan cara mengedan yang baik dan efektif.

B. Tindakan kala II

1. Perlu diperhatikan keadaan antiseptik dan aseptik

2. Anjurkan pasien mengejan bila ada his

3. Memantau DJJ sesering mungkin

4. Mempersiapkan partus set steril

5. Membantu proses kelahiran.

C. Tindakan kala III

1. Mengawasi keadaan perdarahan ibu

2. Mencari tanda – tand pelepasan plasenta dan kalau sudah lepas segera dilahirkan

D. Tindakan kala IV

1. Mengawasi perdarahan post partum

2. Menjahit robekan perineum

3. Memantau dan memeriksa keadaan bayi.

Pogram Pelayanan Persalinan

NORMAL

KOMPLIKASI

PENANGANAN

Persalinan normal:

Datang ke bidan/ puskesma, rumah sakit bila:

· Perut sakit

· Mengeluarkan

Ø Lendir + darah

Ø Darah

Ø Cairan

1. persiapan

Ø Primum non nocere (tanpa trauma)

* Well born baby

* Well heath mother

Ø Alat persalinan

Ø Alat resusitasi bayi

Ø Mengatasi komplikasi

2. proses persalinan

* Kala pertama

Observasi: keadaan umum, his, penurunan Bundle, DJJ.

* Kala dua

Observasi: keadaan umum, his, penurunan Bundle, DJJ, pimpin mengejan

Episiotomi

Kendalikan ekspulsi kepala

Bersihkan muka

Putar paksi luar

Persalinan bayi

Bersihkan jalan nafas

Potong tali pusat

* Kala presentasi

Observasi : his kembali

· Tanda plasenta lepas

· Tes plasenta lepas

· Persalinan plasenta

· Dorong FU secara crede

* Kala keempat

Observasi : keadaan umum, perdarahan, kontruksi rahim, perlukaan jalan lahir.

* Kala pertama

ª Ketuban pecah dini

ª Ketuban pecah pembukaan kecil

ª Fase laten memanjang

ª Pecahnya Vasa previa

ª Perpanjangan fase aktif

* Kala kedua

ª Kelainan posisi kepala

ª Kala dua panjang

ª Persalinan terlantar

ª Asfiksia intrauterin

ª Ruptura uteri imminen

ª Ruptura uteri

* Kala ketiga

ª Perluasan robekan

ª Perdarahan postpartum

Retensio plasenta

Plasenta rest

ª Robekan serviks

* Kala keempat

ª Atonia uteri

ª Plasenta rest

v lakukan observasi ketat, sehingga penyimpangan segera diketahui

v rujuk segera bila terjadi komplikasi ke puskesmas

v persiapan rujukan yang baik dalam perjalanan dengan infus dan persediaan cairan

v antar penderita untuk keamanan dan meningkatkan tanggung jawab terhadap masyarakat

v jelaskan masalah kepada keluarga

v ikut sertakan keluarga untuk membantu secara moril dan mungkin untuk donor

v jahit robekan

v uterotonika

v plasenta manual

v kuretase

v infus- transfusi

PARTOGARAF

Dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam menentukan keputusan dalam penatalaksanaan. Partograf memberi peringatan pada petugas kesehatan apakah persalinan berlangsung lama , adanya gawat ibu dan janin atau apa ibu perlu dirujuk.

Tujuan penggunanaan partograf adalah untuk :

1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan seviks melalui pemeriksaan dalam.

2. Mendekati apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian juga dapat melakukan deteksi secara duni setiap kemungkinan terjadinya partus lama.

Hal – hal yang dicatat pada partograf :

1. Informasi tentang ibu

Catat waktu kedatangan dan perhatikan kemungkinani ibu datang dalam fase laten persalinan. Catat waktu terjdinya pecah ketuban.

2. Kesehatan dan kenyamanan janin

a) Denyut jantung janin (DJJ)

Catat DJJ setiap 30 menit (lebih sering jika ada tanda – tanda gawat janin).

b) Warna dan adanya air keruban.

Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam dan nilai warna air ketuban jika ketuban pecah.

· U : ketuban utuh (belum pecah)

· J : ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

· M : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur dengan mekonium

· D : ketuban pecah bercampur dengan darah.

c) Molase (penyusupan kepala janin)

Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul ibu.

· 0 : tulang – tulang kepala janin terpisah , sutura dengan mudah dapat dipalpasi

· 1 :tulang – tulajng kepala jani hanya sebagian yang bersentuhan

· 2 : tulang – tulang kepala janin saling tumpang tindih , tapi masih dapat dipisahkan

· 3 : tulang – tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan.

3. Kemajuan persalinan.

a. Pembukaan serviks

Nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering dilakukan bila ada tanda – tanda penyulit).

b. Penurunan baguan terendah atau presntasi janin

Mengacu pada bagian kepala (dibagi 5 bagian) yang teraba (pada pemeriksaan abdomen / luar ) diatas symfisis pubis , catat dengan tanda lingakaran (0).

4. Jam

Catat waktu sesungguhnya

5. Waktu

Menyatakan beberapa jam waktu yang telah dijalani.

6. Kontraksi uterus

Setiap ½ jam raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.

7. Obat – obatan dan cairan yang diberikan

Catat semua obat lain yang diberikan.

8. Oksitosin

Bila memakai oksitosin catatlah banyaknya oksitosin pervolume cairan infus dan dalam tetesan permenit.

9. Kesehatan dan kenyamanan ibu.

Nadi , tekanan darah dan temperatur tubuh.

· Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan.

Beri tanda titik pada kolom waktu yang sesuai.

· Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan.

Beri tanda panah pada partograf pada kolom yang sesuai.

· Volume urin , protein atau aseton, ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam.

Bila temuan – temuan melintasi kearah kanan dari garis waspada , petugas kesehatan harus melakukan penilaian terhadap kondisi ibu dan janin dn segera mencari rujukan yang tepat.

Hal yang masih perlu dilakukan

Hal yang tidak perlu dilakukan

  1. Anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya.

  1. Perbolehkan ibu untuk mencari posisi apapun yang nyaman bagi dirinya.
  2. Stenent (untuk pencegahan laserasi)

  1. Menghadirkan orang – orang berarti untuk ibu.

  1. Mengeringkan bayi dan menyelimutinya untuk mencegah hipotermi.
  1. Melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi.
  2. Berbaring terlentang.

  1. Melakukan episiotomi rutin.

  1. Melebarkan jalan lahir dengan merangsang dengna jari – jari.

  1. Klisma (pemotongan bulu pubis).

  1. Memutar leher bayi.

  1. Mengedan da menahan nafas panjana

  1. Kateterisasi secara rutin.

Prinsip Dasar Ketuban Pecah Dini:

  • Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
  • Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi khorioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal, dan menyebabkan infeksi ibu.
  • Ketuban pecah dini disebabkan oleh berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intrauterine atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks
  • Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin, dan adanya tanda- tanda persalinan

( pelayanan kesehatan maternal neonatal : 218)

PENILAIAN KLINIK

  • Tentukan pecahnya selaput ketuban. Ditentukan dengan adanya cairan ketuban di vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk dan mengedan. Penentukan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus ( Nitrazin test) merah menjadi biru, membantu dalam menentukan jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan, kelainan janin
  • Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG
  • Tentukan ada tidaknya infeksi: bila suhu ibu ≥ 38 C, air ketuban yang keruh dan berbau. Pemeriksaan air ketuban dengan tes LEA (Lekosit Esterase)

Lekosit darah > 15.000/mm3. Janin yang mengalami takhikardi mungkin mengalami infeksi intrauterine

· Tentukan tanda- tanda inpartu. Tentukan adanya kontraksi teratur periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif antara lain intuk menilai skor pelvic

PENANGANAN

KONSERVATIF

· Rawat di rumah sakit

· Berikan antibiotika (ampisilin 4 x 500 mg atau eritromisin bila tak tahan ampisilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari

· Jika umur kehamilan <>

· Jika usia kehamilan 32 - 37 minggu, belum in partu, tidak ada infeksi, tes busa negatif, beri deksametason, observasi tanda- tanda infeksi, dan kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu

· Jika usia kehamilan 32 - 37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam

· Jika usia kehamilan 32 - 37 minggu, ada infeksi , beri antibiotic dan lakukan induksi

· Nilai tanda- tanda infeksi (suhu, lekosit, tanda- tanda infeksi intrauterine)

· Pada usia kehamilan 32- 34 minggu berikan steroid, untuk memacu kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.

AKTIF

KEHAMILAN > 37 MINGGU, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea. Dapat pula diberikanmisoprostol 50 ugintravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali

Bila tanda- tanda infeksi berikan antibiotic dosis tinggi, dan persalinan diakhiri:

a. bila skor pelvic <>

b. bila skor pelvic > 5, induksi persalinan, partus pervaginam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar